
Mesir datang ke Piala Dunia 2026 dengan misi besar: bukan hanya sekedar berpartisipasi, tetapi berusaha menembus fase gugur dan memperbaiki catatan mereka di panggung dunia. Mesir sudah memastikan tiket ke Piala Dunia setelah menang 3-0 atas Djibouti, dengan Mohamed Salah mencetak dua gol dan Ibrahim Adel menambah satu gol. Di Grup G, Mesir akan menghadapi Belgia, Selandia Baru, dan Iran; jadwal mereka dimulai melawan Belgia pada 15 Juni, lalu Selandia Baru pada 21 Juni, dan Iran pada 26 Juni.
Mengandalkan Fleksibilitas Formasi
Di bawah Hossam Hassan, Mesir tampaknya tidak terpaku pada satu pola. Dalam laga uji coba melawan Rusia pada 28 Mei 2026, Mesir memakai formasi 4-2-3-1, dengan dua gelandang bertahan, tiga gelandang serang, dan Omar Marmoush sebagai penyerang utama. Namun, Mesir juga punya dasar permainan 4-3-3, terutama ketika ingin memaksimalkan Mohamed Salah di sisi kanan dan Marmoush di sisi kiri atau sebagai penyerang bergerak. The Guardian mencatat bahwa kombinasi Salah di kanan dan Marmoush di kiri dalam 4-3-3 pernah menjadi bagian dari pola yang membantu Mesir lolos ke Piala Dunia.
Artinya, strategi Mesir kemungkinan akan berubah sesuai lawan. Melawan tim kuat seperti Belgia, 4-2-3-1 bisa dipakai untuk menjaga keseimbangan dan menutup ruang di tengah. Melawan Selandia Baru, Mesir bisa lebih agresif dengan 4-3-3 agar serangan sayap dan tekanan tinggi lebih maksimal.
Transisi Cepat Melalui Salah dan Marmoush
Kekuatan utama Mesir tetap berada pada serangan cepat. Mohamed Salah diproyeksikan menjadi pemimpin sekaligus tumpuan serangan, sementara Omar Marmoush menjadi pasangan penting di lini depan. Reuters melaporkan bahwa Salah akan memimpin skuad, sedangkan Marmoush menjadi bagian utama serangan Mesir di Piala Dunia.
Dalam praktiknya, Mesir bisa menggunakan pola ini:
Saat bertahan, Mesir menumpuk pemain di area tengah dan memaksa lawan menyerang dari sisi luar. Begitu bola direbut, umpan pertama harus cepat mengarah ke Salah, Marmoush, Trezeguet, atau Zizo. Saat menyerang, Salah bisa bergerak dari kanan ke tengah untuk membuka ruang tembak, sementara Marmoush menyerang celah di antara bek tengah dan bek sayap lawan.
Pola ini cocok untuk menghadapi Belgia, karena Mesir tidak harus menguasai bola terlalu lama. Mereka cukup disiplin, sabar, lalu menghukum lawan lewat transisi cepat.
Dua Gelandang Bertahan sebagai Kunci Keseimbangan
Dalam formasi 4-2-3-1 melawan Rusia, Mesir menempatkan Mohanad Lasheen dan Marwan Attia sebagai dua gelandang bertahan. Peran ini sangat penting karena Mesir harus melindungi lini belakang sekaligus memberi kebebasan kepada pemain kreatif seperti Zizo, Emam Ashour, Trezeguet, Salah, dan Marmoush.
Dua gelandang bertahan itu harus menjalankan tiga tugas utama: memutus serangan lawan sebelum masuk kotak penalti, menutup ruang antar-lini, dan menjadi penghubung awal untuk serangan balik. Bila kedua gelandang ini tampil rapi, Mesir bisa bermain lebih aman tanpa membuat Salah dan Marmoush terlalu jauh turun ke belakang.
Pertahanan Rapat dan Disiplin Melawan Tim Kuat
Dikutip dari berita NOBARID, Reuters menggambarkan pendekatan Hossam Hassan sebagai fleksibel: Mesir bisa bermain menyerang melawan lawan yang lebih lemah, tetapi cenderung lebih berhati-hati dan defensif saat menghadapi lawan kuat atau laga tandang yang sulit. Ini sangat relevan untuk laga pertama melawan Belgia.
Melawan Belgia, Mesir sebaiknya tidak bermain terlalu terbuka. Strategi yang lebih masuk akal adalah menggunakan blok menengah, menjaga jarak antar-lini tetap rapat, dan tidak memberi ruang bagi Belgia untuk menyerang dari half-space. Bek sayap Mesir juga harus berhati-hati ketika naik membantu serangan, karena ruang di belakang mereka bisa menjadi sasaran serangan balik lawan.
Target realistis melawan Belgia adalah mencuri poin. Hasil imbang pada laga pembuka bisa sangat berharga karena dua pertandingan berikutnya melawan Selandia Baru dan Iran akan menjadi penentu nasib Mesir.
Memaksimalkan Bola Mati dan Umpan Silang
Kemenangan 1-0 Mesir atas Rusia lahir dari sundulan Mostafa Ziko pada menit ke-65. Statistik BBC juga menunjukkan Mesir membuat 15 umpan silang dan memenangi tujuh duel udara dalam laga tersebut. Ini memberi gambaran bahwa bola mati, crossing, dan duel udara bisa menjadi senjata tambahan.
Di Piala Dunia, pertandingan sering ditentukan oleh detail kecil. Jika Mesir kesulitan membongkar pertahanan rapat Iran atau Selandia Baru, sepak pojok, tendangan bebas, dan umpan silang dari sisi lapangan bisa menjadi jalan keluar. Pemain seperti Trezeguet, Zizo, dan bek-bek tengah harus dimaksimalkan dalam situasi bola mati.
Strategi Berbeda Untuk Setiap Lawan
Melawan Belgia, Mesir perlu bermain pragmatis: bertahan rapat, mengurangi ruang di tengah, dan menyerang lewat transisi cepat. Salah dan Marmoush harus menjadi outlet utama ketika bola berhasil direbut.
Melawan Selandia Baru, Mesir harus lebih dominan. Ini laga yang wajib dimaksimalkan untuk meraih tiga poin. Mesir bisa menekan lebih tinggi, memainkan tempo cepat dari sisi sayap, dan lebih sering mengirim bola ke kotak penalti.
Melawan Iran, Mesir perlu sabar. Iran biasanya kuat secara fisik dan disiplin dalam duel. Mesir harus menghindari permainan terlalu langsung yang mudah dibaca, lalu memanfaatkan kombinasi pendek di sisi sayap untuk membuka ruang.
Tantangan Terbesar: Jangan Terlalu Bergantung pada Salah
Salah tetap bintang utama, tetapi Mesir tidak boleh hanya mengandalkan satu pemain. Kehadiran Marmoush, Trezeguet, Zizo, Emam Ashour, dan Ibrahim Adel harus membuat serangan Mesir lebih beragam. Hossam Hassan juga sedang menguji kedalaman skuad; dalam laga melawan Rusia, Mesir melakukan banyak pergantian pemain dan Reuters mencatat adanya 10 perubahan selama pertandingan tersebut.
Jika Mesir terlalu mudah ditebak—misalnya selalu mencari Salah di kanan—lawan akan lebih mudah mengunci alur serangan. Karena itu, variasi menjadi kunci: serangan dari kiri lewat Marmoush, tusukan gelandang dari lini kedua, crossing Trezeguet, dan bola mati dari Zizo.
Kesimpulan
Strategi pertandingan sepak bola terbaik Mesir di Piala Dunia 2026 adalah fleksibel, disiplin, dan cepat dalam transisi. Hossam Hassan perlu menjaga keseimbangan antara pertahanan yang rapat dan serangan cepat yang memaksimalkan Salah serta Marmoush. Melawan Belgia, Mesir harus pragmatis. Melawan Selandia Baru, mereka harus berani menyerang. Melawan Iran, mereka harus sabar dan cerdas membaca momentum.

